You know what i hate?
i hate how i look forward to seeing you
i hate that i always look for you
i hate how a mere glance from you sweeps me off my feet
i hate how my heart jumps when you're beside me
i hate how i go crazy when you brush past me
i hate how i romanticize every interaction we have
i hate that every little thing is about you now
...
Aku berjalan melewati setiap ruangan di sekolah menuju kantin. Hari ini, sekolah tampak seperti normal. Tidak ada perubahan. Namun, hatiku terasa kosong. Mataku terus melirik kesana kemari mencari sosok yang aku cintai. Aku memelankan langkahku ketika melihatmu berjalan dengan anggun dan cantik dari kantin, tempat yang tadinya ingin aku tuju. Tanganmu memegang buku tebal berwarna biru dengan tulisan "matematika" di covernya. Dengan cepat aku mengikuti kemana kamu pergi. Langkah mu terhenti ketika berada di depan pintu perpustakaan. Aku bersembunyi di balik tembok, berusaha mengintip apa yang sedang kamu lakukan. Tetapi, kau pun ikut mengintip dari balik pintu tersebut lalu tersenyum. Astaga. Kenapa kau lakukan itu?
Aku langsung menarik kepalaku kembali bersembunyi di balik tembok tadi. Pipiku memerah menahan rasa malu. Perutku seperti diisi oleh kupu-kupu. Seperti baru saja terkena panah asmara dari dewa cinta bersayap.
Aku memberanikan diri dan masuk mengikutimu. Ruangan yang penuh dengan berbagai macam buku. Sangat menarik. Aku tebak kamu sangat suka datang ke tempat seperti ini. Tak heran kamu selalu mendapatkan peringkat teratas di kelas. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rak buku untuk bertemu denganmu. Rak buku yang penuh dengan buku pelajaran kelas 11. Buku yang tadi kau bawa disimpan di rak tersebut sambil mengambil buku yang lain. Oh, andaikan cintamu pada ku sebesar cintamu pada buku. Kamu pernah memberitahuku bahwa membaca merupakan hal yang menjadi kesukaanmu. Benar saja, itu sangat terlihat jelas.
Aku menghampirimu dan bertanya apa yang sedang kau pegang. Kau menjawab dengan suaramu yang sangat lembut, seperti jika kau dapat mendengar kapas (apasih woy). Aku tak mendengar jawabanmu karena aku terlalu fokus dengan kecantikanmu. Aku terhipnotis oleh matamu yang cokelat hitam seperti sebuah lubang, dan aku terjatuh kedalamnya. Astaga, aku harus segera membersihkan pikiranku dan fokus. Aku mengambil buku yang sama, lalu keluar bersama denganmu menuju kelas.
Sepanjang jalan, aku merasa ada ketegangan diantara kita. Atau mungkin itu hanya aku. Jantungku berdetak begitu cepat ketika berjalan disampingmu. Tanganmu beberapa kali menyentuh tanganku. Hal yang simple dan normal, namun sukses membuatku ingin kayang, terbang, guling-guling salting (pls send help).
Kamu berterima kasih karena telah menemaninya pergi ke perpustakaan tadi. Astaga Arika, kau tak perlu berterima kasih. Itu adalah kemauanku sendiri. Aku menjawab senyumannya lalu pergi ke tempat dudukku.
I know it's only small interactions
I know it doesn't mean anything to you
But it does to me
All those small things are meaningful to me
I love all of them
I love all the details
What we do together and everything
I romanticize all the things we do
Because i love you, Arika
Kapan kamu akan sadar tentang perasaanku kepadamu?
