Bel kelas sudah berbunyi tanda jam pelajaran fisika telah selesai. Selanjutnya kami akan mempelajari matematika, pelajaran yang aku tunggu-tunggu.
Guru menyuruh kami untuk membentuk kelompok untuk mempresentasikan materi minggu depan. Sebuah kebetulan sekali, aku satu kelompok dengan Arika. Gadis itu, tak hanya cantik tetapi juga cerdas. Bahkan banyak yang ingin satu kelompok dengannya. Membuatku berpikir apakah semesta berada di pihakku? Apakah ini pertanda bahwa kami memang ditakdirkan untuk bersama?
Astaga, hariku takkan pernah bisa kabur dari gadis itu. Sungguh manusia yang sempurna. Matanya yang hitam kecoklatan itu.. Oh, how i fell in love with her. Too deep. Sampai aku tidak bisa menarik diri untuk keluar dari perasaan ini.
Aku mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen, lalu duduk di kursi depannya. Jantungku berdebar sangat kencang. Pipiku mulai menampakkan kemerahan. Tanganku basah berkeringat.
Astaga, seharusnya aku fokus dengan pelajaran ini. Otakku tak bisa berjalan dengan lancar. Semua yang ku pelajari hari ini tidak ada yang dapat masuk, seakan-akan penuh dengan pikiran tentang dia. Seperti terhipnotis. Pandanganku tak bisa lari darinya.
Fokus Haidar, kau harus fokus. Baiklah, mari kita selesaikan masalah satu-persatu. Ku amati materi yang akan kami presentasikan minggu depan. Lalu dengan lihainya ku mainkan pulpenku di atas kertas. Pulpen itu menari-nari membentuk coretan-coretan angka dan garis yang tak jelas.
Ada sedikit yang tak kumengerti. Apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti tentang ini. Apakah aku harus menanyakan ini? Ke siapa? Oh benar, Arika kan gadis paling cerdas di kelas. Mungkin ia tahu tentang ini.
"Arika, bisakah aku..." Perkataanku terhenti.
Astaga. Apa yang terjadi dengan ku? Aku tidak bisa melanjutkan pertanyaanku.
Ketika ia berbalik, matanya menatap mataku dengan lembut. Aku merasa ada hubungan elektrik yang menyambungkanku dengannya. Senyumannya itu, kata "iya" nya.. membuatku terdiam bagaikan patung.
"Emm.. euh.. anu.." sial, aku tidak bisa berkata-kata.
Aku telah larut dalam tatapan matanya. Begitu cantik. Rambutnya yang dibiarkan tak terikat, membuat gelombang-gelombang indah seperti ombak lautan. Senyumannya yang... AARGHHHH meleyot aku dibuatnya (plis gua bener bener ga bisa berkata-kata). Tanganku sangat lemas, seperti energiku tersedot oleh sebuah magnet yang berasal dari tatapannya itu.
"Ada apa Haidar?" Astaga, suaranya indah sekali. Pull yourself together, damn it!
"Tidak jadi." Aku sampai lupa apa yang mau aku tanyakan tadi. Dengan cepat kupalingkan muka dan beranjak dari tempat duduk kembali ke kursi asalku.
Sangat memalukan. Aku merasakan dengan jelas merah di pipiku. Hatiku dibuat acak-acakan olehnya.
Namun, tidak apa apa deh. Asalkan yang melakukannya adalah Arika, aku rela. Aku rela, melakukan apapun untuknya. Gadis itu, indahnya dirimu. Mengapa kita tidak bersama saja. Menghabiskan masa SMA berdua. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi miliknya. Aku ingin bersamanya. Selamanya. Hingga Bumi ini enggan berputar lagi.
I wanna be yours, Arika.
And i wish you felt the same.
