Langsung ke konten utama

Fall Silent (1)


Bel kelas sudah berbunyi tanda jam pelajaran fisika telah selesai. Selanjutnya kami akan mempelajari matematika, pelajaran yang aku tunggu-tunggu. 

Aku menyukai matematika sejak SD. Menurutku, matematika mengajarkan kita bahwa ada banyak jalan yang dapat dilalui untuk sampai ke tujuan yang kita inginkan. Contoh, 2 + 2 = 4 namun 1 + 3 juga 4. Hal yang sangat simpel, namun sangat berarti jika kau memahaminya. Itulah mengapa aku menyukai pelajaran ini. 

Guru menyuruh kami untuk membentuk kelompok untuk mempresentasikan materi minggu depan. Sebuah kebetulan sekali, aku satu kelompok dengan Arika. Gadis itu, tak hanya cantik tetapi juga cerdas. Bahkan banyak yang ingin satu kelompok dengannya. Membuatku berpikir apakah semesta berada di pihakku? Apakah ini pertanda bahwa kami memang ditakdirkan untuk bersama? 

Astaga, hariku takkan pernah bisa kabur dari gadis itu. Sungguh manusia yang sempurna. Matanya yang hitam kecoklatan itu.. Oh, how i fell in love with her. Too deep. Sampai aku tidak bisa menarik diri untuk keluar dari perasaan ini.

Aku mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen, lalu duduk di kursi depannya. Jantungku berdebar sangat kencang. Pipiku mulai menampakkan kemerahan. Tanganku basah berkeringat. 

Astaga, seharusnya aku fokus dengan pelajaran ini. Otakku tak bisa berjalan dengan lancar. Semua yang ku pelajari hari ini tidak ada yang dapat masuk, seakan-akan penuh dengan pikiran tentang dia. Seperti terhipnotis. Pandanganku tak bisa lari darinya. 

Fokus Haidar, kau harus fokus. Baiklah, mari kita selesaikan masalah satu-persatu. Ku amati materi yang akan kami presentasikan minggu depan. Lalu dengan lihainya ku mainkan pulpenku di atas kertas. Pulpen itu menari-nari membentuk coretan-coretan angka dan garis yang tak jelas. 

Ada sedikit yang tak kumengerti. Apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti tentang ini. Apakah aku harus menanyakan ini? Ke siapa? Oh benar, Arika kan gadis paling cerdas di kelas. Mungkin ia tahu tentang ini.

"Arika, bisakah aku..." Perkataanku terhenti.

Astaga. Apa yang terjadi dengan ku? Aku tidak bisa melanjutkan pertanyaanku. 

Ketika ia berbalik, matanya menatap mataku dengan lembut. Aku merasa ada hubungan elektrik yang menyambungkanku dengannya. Senyumannya itu, kata "iya" nya.. membuatku terdiam bagaikan patung. 

"Emm.. euh.. anu.." sial, aku tidak bisa berkata-kata. 

Aku telah larut dalam tatapan matanya. Begitu cantik. Rambutnya yang dibiarkan tak terikat, membuat gelombang-gelombang indah seperti ombak lautan. Senyumannya yang... AARGHHHH meleyot aku dibuatnya (plis gua bener bener ga bisa berkata-kata). Tanganku sangat lemas, seperti energiku tersedot oleh sebuah magnet yang berasal dari tatapannya itu. 

"Ada apa Haidar?" Astaga, suaranya indah sekali. Pull yourself together, damn it!

"Tidak jadi." Aku sampai lupa apa yang mau aku tanyakan tadi. Dengan cepat kupalingkan muka dan beranjak dari tempat duduk kembali ke kursi asalku. 

Sangat memalukan. Aku merasakan dengan jelas merah di pipiku. Hatiku dibuat acak-acakan olehnya. 

Namun, tidak apa apa deh. Asalkan yang melakukannya adalah Arika, aku rela. Aku rela, melakukan apapun untuknya. Gadis itu, indahnya dirimu. Mengapa kita tidak bersama saja. Menghabiskan masa SMA berdua. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi miliknya. Aku ingin bersamanya. Selamanya. Hingga Bumi ini enggan berputar lagi. 

I wanna be yours, Arika. 

And i wish you felt the same.

Postingan lainnya

Arika

Arika, dengan rambut hitam nya yang panjang dan terawat, terlihat indah ketika ditiup oleh angin yang berhembus. Matanya yang meskipun berwarna gelap namun selalu memancarkan cahaya yang berbinar. Setiap hari selalu membagi keceriaannya ke orang lain. Senyumannya yang begitu menular jika kau bertemu dengannya. Suaranya yang indah seperti nyanyian siren yang menghipnotis. Pakaiannya yang selalu rapi, seakan-akan tidak pernah kotor.  She's just perfect.  Like a fallen angel.  How can a human be this gorgeous, beautiful, pretty, stunning, heavenly, all those words belong to her. Benar-benar that pinterest girl, if you know what i mean. ... Aku terdiam duduk di kasurku dengan laptop sebagai satu-satunya sumber cahaya di kamarku. Dari laptop itu keluar nyanyian lagu, lagu yang kutujukan hanya kepadanya. Kacau. Pikiranku tidak karuan. Hatiku penuh oleh seseorang yang sangat kusayangi. Seseorang yang namanya selalu kutunggu terpampang di layar handphone ku. Jariku perlahan meng...

The Letter From The Writer (5)

In the tapestry of our school days, your presence is the most vibrant thread, weaving through every moment and making the ordinary extraordinary. From stolen glances in the classroom to the electric touch of our fingers as we pass notes, every shared heartbeat creates a melody only our hearts can hear. In the quiet corners of the library, our whispered conversations create a world of our own, a sanctuary where the outside noise fades away, leaving only the symphony of our connection. Your laughter in the hallways is the sweetest melody, and the way your eyes meet mine across the crowded cafeteria sends shivers down my spine. As we navigate the complexities of assignments and exams, I find comfort in the knowledge that you are my partner in this academic journey. Our late-night study sessions turn into stolen moments of shared glances and subtle touches, and in those stolen seconds, time stands still. The classrooms may be filled with lectures, but my focus is always drawn to you—your i...

The Night We Started It All (4)

Beneath the twinkle of New Year's eve, A heart, brave but shy, finds its reprieve. In the echo of laughter, and the countdown's cheer, A poem unfurls, whispered to a man so dear. Oh, gentle star in the midnight sky, In your presence, my spirits soar high. With each passing second, a chance to confess, A New Year's wish, in the heart's address. Through the fireworks' dance and the joyous crowd, I speak in verses, soft and proud. In the realm of possibilities, let our paths align, A hopeful New Year, where your hand fits in mine. May the moments ahead be a story untold, Where sentiments deepen, and emotions unfold. As the calendar turns, let our connection grow, In this New Year's glow, may true feelings show. May our journey together be a cherished grace.   Kami berdiri diatas gedung tertinggi di kota. Menatap langit seperti lukisan abstrak bintang-bintang. Hawa dinginnya malam menusuk tubuh, namun dihadang oleh pelukan dari tangannya. Pelukan begitu hangat dan n...

A Heart's Farewell

The silence between us has been deafening, a heavy weight that presses down on my chest. I remember how it all began, my anger simmering just beneath the surface, quiet yet potent. Instead of confronting you, I chose the silent treatment, believing that withdrawing would somehow communicate my hurt. I thought if I stayed quiet, you would understand the depth of my feelings and come to me with an apology. But in reality, my silence only built walls between us, walls that grew taller with each passing day. During those weeks apart, I replayed our last moments together in my mind like a broken record. I wanted to scream, to cry, to let you know how much your actions had hurt me. But instead, I bottled it all up, thinking that time would heal everything. Each day felt like a battle against my own pride. I didn’t want to be the first to reach out; it felt like admitting defeat. But as the days turned into weeks, I realized that my silence was doing more harm than good. I missed you, more th...

Haidar

Lelaki itu, astaga. Haidar. Nama yang sangat indah. Seindah wajahnya yang begitu tampan dan charming . Matanya sebiru lautan, sangat tajam, membuatku tenggelam sangat jauh setiap kali aku melihatnya. Rambutnya yang selalu acak-acakan, namun tetap terlihat rapi disaat yang sama. Dengan mendengar namanya saja, jantungku bisa mempercepat detakannya seperti sudah diprogram otomatis setiap kalinya. Lelaki itu, yang berhasil meluluhkan hatiku selama ini. Lelaki itu, yang selalu mengisi pikiranku setiap hari. Lelaki itu, yang selalu ku temui di mimpi-mimpi indahku.  Oh, he's just too perfect.  Yang aku inginkan sekarang hanyalah dia. Dia yang dapat mengisi hari-hari ku. Dia yang dapat menjadi sandaran ketika aku lelah, ketika aku sedih, dan aku akan melakukan hal yang sama padanya. Biarkanlah kita saling melengkapi satu sama lain.  But, is it possible?  Is it me he's looking for?  Dia begitu sempurna. Aku sadar aku tak mungkin bisa memilikinya. Tapi, ayolah.. Would you...

The Sunset (2)

Dear diary, I met a boy He is the illusion of which i dream. He is a beautiful afterthought of all the words of love left unspoken. Loving him is exactly like breathing. How can i stop? His presence, so strange and wonderful, seemed to fill the room and press against me. I didn’t think I’d ever sleep again. The first time I heard you laugh, I only wanted to say funny things, and so you would always be laughing.  You know what happens to chocolate when you leave it out in the sun? I’m that unfortunate chocolate and you, you are the laughing sun.  For this reason, I am offering myself to you not as a martyr or some selfless fool, but as a self-indulgent moth who actively pursues the light without much fear for the flame. The moth who revels in the heat and declares: “Burn me.”  I dream of going to places with you and waking up with you everyday. Someday, I wish all of these hopes would come true. To be your friend was all I ever wanted; to be your lover was all I ever dream...